akomodasi Ubud

KALI pertama menjejak kaki di Ubud, Bali, saya langsung bilang pada semesta: this is where I belong.  Ada bahagia dan damai di tempat ini.  Udara yang saya hirup, tanah yang saya pijak, bagai bersekongkol menggoda hati.  Maka jatuhlah ia.

Ubud itu nyeni dan nyepi.  Kau bisa memindai ekspresi seni kemanapun melangkah: galeri, workshop, teater, rumah, pasar, gapura, hingga trotoar.  Hidungmu mengendus asap dupa dan wangi bunga dan irisan pandan.  Kuping mendengar gamelan dan kosakata bahasa dunia.  Lidah mengecap eksotisme.  Kulit terhembus nafas sejuk sang dewata.  Dan jiwamu pun tersenyum.

Setiap kembali ke Bali, Ubud pasti saya datangi.  Tentu ada banyak atap tempat bernaung di tempat ini, meski akhirnya beberapa kali pula saya menyambangi tempat yang sama.  Simak akomodasi Ubud berikut ini.
xUbud 1 Canderi (2)
+62.361.975.054 

Ialah tempat persinggahan saya kala pertama berkenalan dengan Ubud.  Letaknya di pusat kota, tepatnya di jalan Monkey Forest, sekitar setengah menit berjalan kaki dari pasar seni.  Seperti halnya rumah adat khas Bali, ibu Canderi & keluarga tinggal di dalam sebuah komplek mungil yang terdiri atas beberapa pondok.  Kamar tamu terletak di bangunan dua lantai di belakang.  Bersih dan luas.

Sambil menikmati sarapan, kita bisa melihat kegiatan rutin ibu Canderi.  Beliau selalu menyediakan sekitar 30 buah canang sari dan sesembahan lain untuk sembahyang.  Aneka warna dan wewangian menguar.  Demikian setiap pagi, setiap hari, sepanjang tahun.

rutinitas pagi di Canderi
rutinitas pagi di Canderi

Sesudahnya ibu Canderi akan berkeliling menghampiri tamu-tamunya untuk bertukar sapa.  Jika ada waktu lebih beliau tak sungkan bercerita ngalor-ngidul bagai nenek mendongeng kepada cucu-cucunya.  Beliau pun sempat menunjukkan foto mendiang sang suami yang tergantung di belakang meja kasir.  Walaupun suaranya lemah lembut, tapi matanya berbinar-binar setiap menyebut nama suaminya.  Ah, talking about everlasting love.

Syahdan, meskipun saya juga sudah menemukan persinggahan lain yang tak kalah menariknya di seputaran Ubud, namun ada sesuatu yang selalu membuat saya kembali ke Canderi lagi dan lagi.  Bagai cucu yang selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah neneknya.  Home sweet home.

langit Ubud dari kamar Canderi
langit Ubud dari kamar Canderi

* * * * *

xUbud 1 Teba (5)
+62.361.971.179

Tiba di tempat ini ketika hujan sedang lebat-lebatnya.  Letaknya agak tersembunyi di jalan Sugriwa, namun keuntungan lain suasananya tenang dan syahdu.  Seperti halnya Canderi, Teba House ini pun terdiri atas beberapa pondok mungil khas Bali.  Kami dapati semua kamar menghadap ke taman yang teduh dan asri.  Kamarnya pun nyaman, bikin enggan beranjak kemana-mana (apalagi bagi pasangan bulan madu… *lirih*).

Pemilik Teba House adalah bapak Nyoman, yang juga dibantu oleh anak menantu dalam pengelolaan usaha keluarga ini.  Beliau kerap didampingi oleh seekor pudel putih mungil bernama Boni (kalau tak salah ingat).

Tiap pagi sajian sarapan dan seteko air panas diantar langsung ke beranda depan kamar.  Saya belum coba menu lain selain french toast dan buah segar ini.  Usai sarapan kami pun tidur lagi.  Hahaha!  Tampaknya Teba House memang tempat cocok untuk beristirahat dan bermalas-malasan.

jalan setapak di dalam kompleks Teba House nan cantik
jalan setapak di dalam kompleks Teba House nan cantik
suasana Teba House yang asri & resik
suasana Teba House yang asri & resik

 * * * * *

xUbud 1 Saren (1)
+62.361.971.471

Sesekali mencoba trip ala koper.  Mendapat hibah kamar hotel dari seorang teman yang batal berlibur, maka terdamparlah kami di Saren Indah, dimana untuk pertama kalinya dalam sejarah Ubud akhirnya kami menginap di sebuah hotel berbintang… *gemeteran*

Saren Indah terletak di jalan Nyuh Kuning nan asri, atau tepat di belakang Monkey Forest. Kedatangan kami (dua orang pemuda unyu-unyu ala turis backpacker) di Saren Indah disambut dengan senyum sumringah dan tatapan bertanya-tanya.  Handuk dingin dan minuman segar langsung didatangkan.  Ranjang di kamar pun sudah ditata cantik berhias bunga segar disertai surat selamat datang dari manajer hotel.

kamar bulan madu, mas bro!
kamar bulan madu, mas bro! 😉
Kami saling pandang dengan kesadaran baru.  Aha, sepertinya teman kami lupa bilang (atau memang sengaja?) kalau kamar yang dipesan adalah honeymoon suite!  Olala, untunglah kami tidak disambut dengan pengalungan bunga dan tari-tarian selamat datang… *menghembuskan napas lega*

Bagai tokoh dalam novel Honeymoon With My Brother kami pun berusaha menikmati saja pelayanan yang diberikan hotel.  Kamar kami punya view 270 derajat menghadap ke hijau sawah dan hutan.  Kamarnya luas, berpendingin udara, lengkap dengan kulkas dan tv kabel.  Ranjangnya besar, empuk, berkelambu *blushing*.  Kamar mandi lengkap dengan bathtub yang bersih berkilau berjendela super lebar menghadap ke permai alam.

Restoran hotel ini pun tak pernah sepi pengunjung karena terbukti makanannya enak-enak.  Saya sempat coba sashimi salmon ala Saren Indah yang ternyata dimasak setengah matang, namun rasanya sungguh memesona.  Olahan salmon terlezat yang pernah saya makan!

Pada akhirnya kami cuma bisa saling pandang sambil berkelakar, “Sedapnya bulan madu, mas bro!”

xUbud 1 Saren (2)
tangga masuk menuju lobi Saren Indah
a morning view from our window
a morning view from our window
how about some cool refreshment, anyone?
how about some cool refreshment, anyone?
Ubud | Honeymoon With My Brother
Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *