AirAsia

SEMESTA saya berwujud bilik kecil ketika mengalami diare. Ketika pelesiran di Yogyakarta bersama teman-teman, saya malah kerap beranjangsana ke kamar kecil.  Mungkin perut berontak karena salah makan.  Nyaris habis cairan saya, tapi tak habis ceria.

Akhirnya saya bisa mengunjungi Borobudur, salah satu tujuan impian sejak kecil.

Murus-murus memang membuat saya tak bisa maksimal menikmati suasana, tapi di sisi lain saya jadi pemerhati toilet yang baik.  Kamar kecil di kawasan Borobudur ini mempunyai sirkulasi udara yang baik, terasa sejuk, bersih, bahkan cenderung harum oleh pewangi ruangan.  Selama diare, sepertinya inilah kamar kecil terbaik yang pernah saya singgahi di Yogyakarta.  Pengalaman ini bahkan saya tulis di blog sebagai ulasan kamar kecil, lengkap dengan rating berapa bintang.

Terkadang kau tak pernah tahu kemana semesta kan membawa.

Seperti halnya kehadiran AirAsia yang akhirnya membawa saya ke Yogyakarta.  Siapa yang tak cinta dengan kota budaya ini.  Atmosfernya yang nyeni, penduduknya yang ramah, kulinernya yang lezat, dan sumber inspirasi tak berbatas.  Menyesatkan diri di lorong-lorong Taman Sari dan menyusuri gang-gang Kampung Taman yang asri.  Melebur dalam meriah Beringharjo atau menyepi di gumuk-gumuk Parangkusumo.

Namun yang utama adalah karena AirAsia menawarkan tiket pesawat dengan harga terjangkau.  Pada saat itu kami malah mendapat kejutan: rute CGK-JOG PP hanya ditebus 12 ribu rupiah per orang. Luar biasa!  Malah lebih mahal ongkos menuju bandara dan airport tax-nya.

AA Jogja airport

Akhirnya tunai sudah cita-cita saya menyambangi Borobudur, candi Budha terbesar di dunia.  Ia begitu megah dan agung, bagai keluar dari lembar kartu pos lalu terpajang di depan mata.  Mungkin kekaguman saya kerdil sebagai turis yang cuma datang berkunjung untuk foto tanpa memahami filosofi Borobudur sebenarnya.  Apalagi saya tengah dilanda diare sehingga kegiatan saya di sana hanya mengambil gambar dan mencari kamar kecil.  Tapi bagi saya tak apa selama kunjungan itu tidak berdaya merusak.  Punya tiket murah bukan berarti kau jadi murahan, lalu buang sampah sembarangan atau mencorat-coret properti.

Kekaguman pada Borobudur (atau mungkin obyek wisata lain) seharusnya bisa membuat penasaran, lalu menggali informasi lebih dalam (hei, sekarang zaman internet, perpustakaan maya ada dalam genggaman), dan membuatmu tertarik ingin kembali.  Dan tentunya kau bisa kembali kapan saja karena sekarang ada maskapai penerbangan yang bisa diandalkan.

AA Jogja Borobudur

Dahulu, bepergian dengan pesawat identik dengan mahal.  Tak pernah terlintas jika saya bakal bertandang ke Yogyakarta dengan pesawat.  Kini saya sudah bisa menandai beberapa destinasi yang sudah dan akan dikunjungi kembali di bucket list.

Kini siapa saja bisa punya impian terbang kemanapun, bahkan ke luar negeri.

Adalah naif jika masih ada yang beranggapan bahwa bepergian ke luar negeri itu tiada guna karena negeri kita lebih indah. Indonesia memang  indah, tapi apakah hanya keindahan yang kau lihat, Kawan? Bagaimana kau bisa membandingkan sesuatu jika hanya melihat dari satu sisi? Mengapa kau mengurung diri sendiri sementara keagungan Tuhan terbentang di penjuru bumi?  Maka datangilah, syukurilah.  Selama masih ada masa.

Perjalanan perdana saya ke luar negeri dengan menggunakan direct flight AirAsia adalah rute Jakarta-Bangkok PP.  Kupu-kupu dalam perut saya bahkan sudah beterbangan sejak awal.  Begitu semangat dan antusias menyambut perjalanan ini.  Ini penerbangan langsung, tak perlu lagi naik kapal feri dari Batam demi ke negeri seberang.

AA Thai wat

Tahukah, Kawan, sekitar satu dasawarsa silam para pejalan hemat pastilah memilih terbang dari Jakarta ke Batam untuk menyeberang ke Singapura.  Pada masa itu, biaya penerbangan langsung ke luar negeri (Singapura adalah tujuan terdekat) tak ada yang bisa dibilang murah, belum ditambah fiskal dan pajak bandara internasional.  Sementarat rute via Batam ini bisa menghemat anggaran hingga lebih dari setengah juta rupiah per orang.

Kemudian muncul AirAsia.  Program tiket promo mereka meledak.  Menentukan tujuan perjalanan jadi lebih mudah karena banyak pilihan rute.  Apalagi kemudian ada kebijakan bebas fiskal bagi pemegang NPWP pribadi.  Kau tak perlu lagi menyeberang via Batam demi mengirit biaya.  Kaum pejalan tiba-tiba mendapat kesempatan emas untuk melebarkan destinasi mereka.

Di Bangkok, saya belajar banyak tentang toleransi dan kedisiplinan.  Kendaraan bermotor selalu memberi kesempatan pada orang-orang yang hendak menyeberangi zebra cross.  Perempatan jalan terasa tenang karena tiada riuh klakson, pengamen, atau pedagang asongan.  Kaum waria atau transgender diberi kesempatan bekerja layak sebagai resepsionis atau pekerja kantoran.  Museum dan bangunan bersejarah terawat baik dan penduduk lokal mendapat akses masuk gratis.

AA Thai monk

Bahwa perjalanan kemanapun bisa membuka mata tentang banyak hal yang mungkin tak pernah ditemui dalam hidup keseharian.  Kau punya kesempatan melihat sesuatu dari sudut pandang baru.  Perjalanan menambah wawasan dan memperkaya batin.

 

***

 

Semesta menuntun saya menemukan renjana.  Pada akhirnya terkuak sudah bahwa melakukan perjalanan adalah salah satu hasrat hati yang paling besar.

Adalah kesenangan tersendiri dapat menyelisik rute penerbangan.  Bertambahlah wawasan saya akan nama-nama kota eksotis di penjuru Asia, sebut saja Mandalay, Vientiane, atau Puerto Princesa.  Atau ada pula ‘kucing goa makan udon’, gumam saya tatkala melihat nama-nama kota Kuching, Goa, Phangan, dan Udon Thani. Jika mendapati satu nama kota yang masih asing, saya pasti penasaran dan segera mencari tahu (siapa tahu layak kunjung untuk perjalanan berikutnya).

Kesenangan bertambah ketika pada akhirnya wacana mewujud rencana.  Menyiasati tanggal dan menyusun anggaran.  Mengumpulkan informasi dan membuat itinerary.  Belajar menjadi tour operator mandiri, baik bagi diri sendiri ataupun bersama teman-teman.   Kegemaran saya menulis dan memotret sungguh bersinergi dengan renjana saya yang lain: mengelola travel blog pribadi.

Apa yang awalnya hobi, kini lambat laun bisa menjadi profesi.  Impian saya sederhana, mengubah kondisi yang awalnya ‘jalan-jalan buang uang’ kemudian bisa menjadi ‘jalan-jalan bikin uang’.  Meskipun hakikat utamanya lebih dari itu, yakni berbahagia dengan apa yang dijalani.  Seperti bekerja sesuai renjanamu.  Kau dalam semestamu.

Dan bukan kebetulan jika AirAsia adalah salah satu yang punya andil sejak awal saya merintis blog perjalanan ini.  Saya percaya saya bisa menggapai semesta perjalanan saya.  Intinya, Kawan, kalau kau punya mimpi, wujudkan!

Perjalanan memang buat rindu. Bagai candu yang kan menerbangkan saya ke Kathmandu.

Semoga.

 

AirAsia & Semesta Saya
Tagged on:             

4 thoughts on “AirAsia & Semesta Saya

  • September 15 at 13:23
    Permalink

    Eh ini sudah pengumuman blm yaaa ?? siapa yg akhirnya ke nepal. Aku doakan kakak jadi juara nya 🙂 Amien.
    Air asia menerbangkan jutaan orang yg haus liburan dengan promo murah nya tapi sekarang banyak yg mahal #AKUSEDIH

    Reply
    • September 15 at 15:35
      Permalink

      AAMIN! 🙂

      Mungkin bukan jadi mahal kak, tapi lebih banyak kompetitor yang bersaing sekarang 😉

      Reply
  • September 16 at 10:41
    Permalink

    tulisan ini bagus sekali cara penulisannya, idenya mengalir lancar sekali. Saya jarang suka tulisan perjalanan wisata, tapi kali ini entah kenapa saya suka. Ini salah satu tulisan perjalanan yang layak ditiru..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *