museum zoologi bogor

Disgiovery.com

MUSEUM Zoologi Bogor di benak saya semasa kecil adalah bangunan tua bernuansa suram dan tempat tinggal keluarga vampir.  Tiap petang ribuan ekor kalong mengepakkan sayap dari atas gedung museum untuk mencari mangsa.  Tiap petang anak-anak kecil berlarian pulang karena takut diculik kalong wewe.

Bangunan ini memang dibangun pada zaman Belanda (1894) dan dahulu bernama Landbouw Zoologisch Laboratorium.  Pada masanya, kalong-kalong besar pemakan buah ini memadati pucuk kanopi Kebun Raya Bogor, dan ketika mamalia tsb berterbangan tiap petang untuk mencari makan, tak ubahnya seperti rombongan vampir yang beranjak keluar dari bagian atas gedung museum.

Ada lompatan waktu yang cukup panjang sejak masa kanak hingga dewasa ketika saya kembali menyambangi Museum Zoologi Bogor ini.  Tapi sepanjang ingatan saya tak ada yang banyak berubah.  Suasana di dalam gedung masih bernuansa lama (meski tampak luar lebih apik & resik), koleksi museum masih sama, penerangan masih remang.

museum-zoologi-entrance

Meski–menurut LIPI–dalam kurun waktu 110 tahun (1894-2005) Museum telah mengoleksi sebanyak 3 juta spesimen yang terdiri lebih dari 20 ribu jenis fauna (mamalia, burung, reptil, amfibi, ikan, moluska, krustasea, serangga, dan artropoda lainnya) namun saya melihat tak ada perubahan berarti pada display museum.  Koleksi yang ditampilkan masih seperti yang dulu.

Sepertinya koleksi yang lain disimpan oleh Pusat Penelitian Biologi LIPI di gedung Widyasatwaloka, Cibinong Science Center, Bogor.  Sayangnya mereka tidak buka untuk umum kecuali bagi peneliti.  Namun kabarnya setahun sekali ada open house di Widyasatwaloka (mari kita cari tahu nanti).  Kebetulan jaraknya dekat dengan tempat tinggal saya.

Kini kembali ke Museum. Dengan sudut pandang yang lebih luas namun imajinasi lebih sempit dibandingkan masa kanak-kanak, kini saya tetap berusaha menikmati apa-apa yang ada di Museum Zoologi Bogor ini.

bangunan-museum

Ada Bangunan Klasik & Kisah Lalu

Museum Zoologi Bogor menempati bangunan zaman Belanda seluas 1.000 meter persegi dengan tujuh ruang pamer.  Secara umum kondisi gedung sudah lebih baik dan terawat, meski mata silindris saya terasa tak nyaman dengan kondisi penerangan yang suram (meski kabarnya hal itu sengaja diberlakukan untuk menjaga warna koleksi museum supaya tidak pudar).

Bangunan di sekitar komplek museum pun sama antik meski rapuh, beberapa bahkan dibiarkan kosong dan tak terpakai.  Bingkai jendela persegi menampakkan kekosongan. Atap genting dan plafon yang bolong. Ada kisah lalu yang sentimentil dari tiap gedung. Pencinta fotografi, arsitektur, hingga horor tentu bakal menyukai suasana di sini.

bangunan-klasik bangunan-museum-sekitar

Ada Paus Pameungpeuk

Ada satu ikon utama di museum ini bagi saya, yaitu paus biru (Balaenoptera Musculus) yang termasuk mamalia terbesar di dunia.  Meski yang ditampilkan hanya tinggal kerangkanya saja, namun semasa kecil saya berimajinasi bahwa hewan inilah yang pernah menelan nabi Yunus hidup-hidup. Lalu Tuhan marah, lalu hewan ini dihukum ke tempat jauh.

Paus biru ini ditemukan mati terdampar di pesisir Pameungpeuk, Garut, pada 1916.  Dibutuhkan waktu 44 hari untuk membawa tubuhnya (panjang 27 m berat 116 ton) ke Bogor.  Walau sang paus tinggal tulang belulangnya saja (berat 64 ton) namun penampakan kerangka paus biru ini memang menjadi salah satu daya tarik utama Museum Zoologi Bogor.

paus-biru-ekor paus-biru-tulang

Ada Badak Tasik

Ada kisah lara sang badak (Rhinoceros Sondaicus) di museum ini.  Tiap pengunjung yang baru datang pasti termenung agak lama di depan kotak kaca dan membaca kisahnya.  Pejantan berbobot 2 ton asal Tasikmalaya ini merupakan badak terakhir di wilayah Priangan setelah ditinggal mati oleh si betina geulis pada 1914 (ditembak pemburu gelap).  Daripada si pejantan ikut tewas percuma oleh tangan tak bertanggungjawab, akhirnya sang badak pun dimasukkan dalam koleksi Museum Zoologi Bogor pada 1934.  Kerabatnya yang masih tersisa kini berada di TN Ujung Kulon, Banten.  Mungkin mereka juga sudah tak menyadari jika si kasep & si geulis dari Tasik sudah lama punah.

badak-tasik

Ada Ikan-Ikan Besar Dari Teluk Jakarta

Teluk Jakarta pada masa silam pastilah masih mengandung sumber daya laut berlimpah.  Lihatlah replika ikan-ikan yang berhasil ditangkap dari perairan di sekitar teluk Jakarta.  Berskala ukuran asli, terdapat seekor ikan jangilus (Tetrapturus Brevirostris) dari keluarga ikan marlin yang bermoncong laksana pedang.  Seukuran panjang orang dewasa, ikan ini ditemukan di pasar ikan Jakarta pada 1933.  Tapi hingga kini kau masih bisa menemukan ikan jangilus segar di pesisir selatan khususnya Palabuhan Ratu (dagingnya bertekstur padat namun empuk laksana daging ayam) meski ukurannya tidak sebesar yang ada di museum.

Ada pula ikan gergaji (Pristis Perotteti) sepanjang 5 meter lebih (hasil tangkapan tahun 1924).  Ikan ini termasuk keluarga ikan pari, dan sama sekali tak ada relasi dengan hiu gergaji yang bersungut-sungut dan tinggal di laut dalam. Walau di papan nama tertera ‘ikan todak’, namun sepertinya ini kekeliruan karena seharusnya ikan jangilus-lah yang menyandang nama tsb.  Bayangkan jika kau snorkeling pada masa itu dan harus berhadapan dengan ikan-ikan sebesar ini.

ikan-jangilus ikan-gergaji

Ada Vampir & Tulang Belulang

Nama latinnya sih keren dan menyeramkan: Pteropus Vampyrus. Seperti lazimnya preman pasar, mereka juga punya nama panggilan: kalong alias codot. Bedanya, mereka tidak suka batu akik dan cuma makan buah-buahan.  Sayangnya, pasokan makanan mereka semakin hari semakin langka akibat perluasan lahan pemukiman.  Kalong-kalong ini pun sebagian besar hijrah meninggalkan Kebun Raya.

Semestinya ada atraksi menarik dari sekitar museum ketika kita dapat menyaksikan para vampir ini tidur bergelantungan di dahan-dahan pohon tertinggi pada siang hari, dan terbang bersamaan pada sore hari tuk mencari makan.  Tapi itu dulu.  Kini kita hanya dapat menyaksikan sisa-sisa kejayaan kalong ini dalam bentuk hewan koleksi.

kalongkoleksi-mamalia

Ada ‘Penemu’ Komodo

Majoor Pieter Antonie Ouwens adalah kurator Museum Zoologi Bogor (1905-1921) ketika pada 1911 menerima sampel kulit dan foto seekor kadal raksasa yang dikirim oleh Letnan Jacques Karel Henri (J.K.H) van Steyn van Hensbroek dari sebuah pulau di Nusa Tenggara.  Ouwens kemudian menamakan hewan itu Varanus Komodoensis dalam makalah ilmiahnya tahun 1912, dan sejak saat itu nama komodo pun mendunia.

P.A. Ouwens sendiri kemudian diabadikan wajahnya dalam bentuk cetakan gips dan tergantung di dinding museum.  Tak jauh di ruang sebelah terdapat pula sampel seekor komodo yang tengah menempel di dinding, bagai seekor tokek besar yang siap menghunjam masa lalu.

penemu-komodo

Ada Saran & Tanya

– bisakah penerangan yang remang-remang disiasati dengan teknik lain yang sekaligus tetap menjaga kondisi koleksi museum?
– adakah sistem sirkulasi udara yang mampu menyejukkan ruangan namun juga tetap menjaga faktor kelembaban tetap stabil?
– seandainya ada pendekatan dengan suasana alam sesungguhnya, misalkan dengan suara-suara fauna asli

koleksi-ikan koleksi-museum

Bagaimanapun Museum Zoologi Bogor sebaiknya jangan dilewatkan dalam kunjungan ke Kebun Raya Bogor.  Masih ada banyak koleksi hewan lain yang tak bisa saya beberkan satu persatu di sini.  Bagaimana kalau kamu yang melengkapinya?

 

Disgiovery yours!

 

Museum Zoologi Bogor
Jl. Ir. H.Juanda – Bogor (satu area dengan Kebun Raya Bogor)
Buka pukul 07.30-16.00 setiap hari
Buka pukul 07.30-17.00 setiap akhir pekan dan hari besar
HTM: Rp. 14.000 (sepaket dengan tiket masuk Kebun Raya Bogor)

Ada Apa Di Museum Zoologi Bogor?
Tagged on:         

38 thoughts on “Ada Apa Di Museum Zoologi Bogor?

  • March 26 at 01:47
    Permalink

    Cuma ikut berharap, kalau di kemudian hari, museum ini mampu mengikuti jejak museum-museum lainnya, dengan dilengkapi seperangkat alat pandu suara digital bagi para pengunjung. Terlalu banyak koleksi, yang sayang banget kalau hanya menjadi objek “dilihat-lihat” tanpa diketahui cerita-cerita menarik di belakangnya 🙂

    Reply
    • March 26 at 02:12
      Permalink

      Ciamik nih idenya! Tapi jadi penasaran sama koleksi di Widyasatwaloka gak sih, bisa jadi displaynya sudah lebih canggih dan dilengkapi info digital 🙂

      Reply
  • March 26 at 05:24
    Permalink

    Masih banyak yang kurang minat berkunjung ke museum, biasanya waktu sekolah aja ke museum. Setelah itu kadang lupa, semoga setiap museum dapat berbenah dan lebih gencar mengenalkan koleksinya pada masyarakat umum, sehingga mereka dapat tertarik untuk mengunjunginya…

    Reply
    • March 26 at 10:56
      Permalink

      Betul, mungkin supaya orang lebih tertarik berkunjung diusahakan supaya lebih interaktif, atau penataan cahaya & dekor & display yang menarik, dll 🙂

      Reply
      • March 26 at 12:07
        Permalink

        Hampir seperti perpustakaan, dulu orang melihat bangunan perpustakaan hampir seperti “gudang” dengan interior yg tidak jelas dan remang-remang. Sekarang perpustakaan berbenah karena ada makul Ergonomi, mengulas tentang desain interior ruangan, pencahayaan dll 🙂

        Reply
        • March 26 at 15:34
          Permalink

          Menarik! Ah, saya jadi ingat pernah punya keinginan hendak wisata perpustakaan. Semoga segera terwujud. Trims sudah mengingatkan 🙂

          Reply
          • March 27 at 04:22
            Permalink

            Jika mengunjungi perpustakaan di kota Jogja, bisa menghubungi saya mas. heeee, nanti aku antar 🙂

  • March 26 at 08:13
    Permalink

    Kerennnn pisan, bang. Meski remang-remang dan terkesan nggak menarik, tapi kalau aku jadi ke Bogor bawa ke sana yah… Mau lihat kerangka Paus Biru, lalu Badak Tasik, eh tapi kok ada Bama juga di situ hahaha

    Reply
  • March 26 at 14:38
    Permalink

    Saya cuma bisa datang ke MZB dan menikmati sunyi dalam gelap yang meremang di sana :hehe. Dengan suara burung yang samar dari paruh-paruh mereka yang telah terbisu oleh tindakan pengawetan di gedung-gedung sekitar. Paling tidak, masih ada warna cerah bulu-bulu mereka, meski tentu saja akan sejuta kali lebih indah apabila mereka bebas terbang di alam raya :)).
    Mereka ternyata punya ceritanyamasing-masing ya Mas. Semoga bahagia segera menjelang untuk mereka semua :hehe. Keren dokumentasinya. Warna monokrom itu memberi nuansa yang berbeda.

    Reply
    • March 26 at 15:30
      Permalink

      Kapankah dirimu ke MZB? Jangan2 kita pernah berpapasan dalam gelap, hehehe.

      Sebenarnya site interpreter-lah yang diperlukan museum. Saya paling suka Ulen Sentalu, dimana setiap foto atau objek menjadi menarik karena punya cerita tersendiri, dan bukan sekadar barang display. Anyway, thanks, Gara!

      Reply
  • March 28 at 17:05
    Permalink

    Isinya sebenarnya menarik banget, mas. Tapi membaca penuturan kang Gio, kayaknya agak kurang nyaman ya karena remang dan lembab. Mengapa setiap museum selalu remang-remang?

    Anyway,
    mas Gio ke situ pake celana kolor? #salahfokus

    Reply
    • March 28 at 21:11
      Permalink

      Hahaha itu motif celanaku emang kayak kolor ya? Eh jangan2 waktu itu emang lupa ganti… *berusaha mengingat*

      Di museum emang agak remang-remang, tapi gak lembab kok karena semua pintu terbuka lebar buat sirkulasi udara…

      Reply
  • March 29 at 14:18
    Permalink

    Daftar kalo mau ke Widyasatwaloka! 🙂 Waktu berkeliling di dalam museum ada satu hal yang mengganggu pikiran saya: semoga kebanyakan orang tidak cukup puas melihat replika atau awetan hewan-hewan tersebut, karena dalam keadaan hidup mereka lebih cantik, lucu, dan memberikan inspirasi bagi manusia untuk hidup lebih baik lagi. Teknologi perekat yang terinspirasi dari tokek, serta gema ekolokasi kelelawar yang dibenamkan ke dalam kendali sepeda sehingga para tunanetra dapat mengendarai sepeda merupakan sedikit contoh dari apa yang bisa kita dapatkan dengan menjaga kelestarian hewan di alam.

    Mungkin perlu ada semacam video di setiap area museum yang menunjukkan bagaimana hewan-hewan tersebut hidup di alam liar, supaya anak-anak paham bahwa di sanalah rumah hewan-hewan tersebut.

    Reply
    • March 29 at 18:13
      Permalink

      Bama, this is awesome! Input darimu dan teman-teman sungguh menarik. Semoga saja dibaca oleh mereka yang berwenang. Otherwise, mari kita datangi Widyasatwaloka dan ungkapkan semuanya di sana! :))

      Reply
  • March 29 at 21:27
    Permalink

    MUSEUM ! Catet ah, biar ngga kelewat kalo ntar jadi ke Bogor. Anterin ! 😀

    Reply
  • March 31 at 17:37
    Permalink

    Entah kenapa ketika masuk dibagian koleksi hewan purba dan reptil, ngeri sendiri -__-.
    seakan akan mereka ngeliatin kita. #EntahGR atau bukan :p

    Reply
    • April 1 at 07:04
      Permalink

      Hahaha ada sensasi tersendiri ya kak 🙂 Asal jangan sesuatu yang gaib yang lagi ngeliatin..

      Reply
  • Pingback: Kiat Pelesiran Di Kebun Raya Bogor - DISGiOVERY

  • April 2 at 12:01
    Permalink

    Eh, ternyata buka untuk umum juga toh museum ini~ tau deh long wikend ini harus kemana 😀 lagi males jalan – jalan ke luar kota nih.

    Reply
  • Pingback: Wisata Khas Bogor – Kisah Lara Sang Badak Terakhir | windamaki's blog

  • February 17 at 14:50
    Permalink

    dua kali ke museum zoologi dan selalu kagum sama hewan2 koleksinya?
    seram? gak ah… lebih seram cerita masa lalu mas #eh

    Reply
  • Pingback: #BloggerWalking: Menyusuri Kebun Raya Bogor (Bagian 3) - papan pelangi

  • August 10 at 13:33
    Permalink

    salam kenal kak gio, jadi inget waktu field trip kuliah dulu dari UNSRI Palembang ke Bogor ya mengunjungi museum zoologi ini
    ternyata belum banyak berubah meski sudah berbilang tahun, kalo ke bogor pengen mampir kesini untuk nostalgia hehehe tapi semoga suatu hari nanti
    museum ini display dan teknologinya lebih canggih

    Reply
    • August 11 at 11:51
      Permalink

      Salam kenal juga, kak Inalova 🙂
      Iya museum Zoologi ini sepertinya nyaris tak ada perubahan termasuk koleksi specimen di dalamnya. Yang bikin penasaran malah museum LIPI di Cibinong, yang dekat rumah, tapi malah belum tau akses masuk ke sana, hahaha 😉 #malu

      Reply
  • November 5 at 07:08
    Permalink

    Baru tahu ternyata, mas gio udah berapa kali emang main kesinih, jujur saya itu kurang menarik dengan museum tapi kalo udah kaya gini, enaknya bareng temen-temen sekalian belajar sejarah lagi…hehehe

    Reply
    • November 5 at 21:21
      Permalink

      Udah gak kehitung kunjungan ke museum ini, hehe.. Seru bisa sekalian belajar sejarah 🙂

      Reply
  • December 20 at 13:44
    Permalink

    Siang Mas Gio, mau tanya, suasana ruangannya remang2 dan ada aroma yg kurang enak ga ya? Krn aku mau ajak anak dan keponakan ke MZB, khawatir mereka takut krn suasananya…
    Terima kasih sblmnya 🙂

    Reply
    • December 20 at 13:53
      Permalink

      Siang mbak Mulyanti 🙂
      Suasana memang agak remang2 tapi aman kok karena museumnya tidak terlalu besar. Kalau aroma saya rasa tidak mengganggu, karena pintu-pintu dibuka lebar untuk sirkulasi. Selamat berkunjung ke museum zoologi ya mbak! 🙂

      Reply
  • January 5 at 07:22
    Permalink

    Keren gan, di museum zoologi banyak terdapat binatang yang di awetkan, dan yang peling berkesat ada kerangka ikan paus yang besar dan panjang.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *