pesona wisata bengkulu

Disgiovery.com

WISATA BENGKULU yang ada dalam wawasan saya dahulu hanya satu: daya tarik bunga bangkai (jangan sebut nama latinnya karena saya dulu kerap keliru, apakah Rafflesia arnoldii atau Amorphophallus titanum). Selebihnya nihil. Tak banyak sumber informasi umum yang dapat menggambarkan pesona Bengkulu. Ia bak bersembunyi sendiri di balik rangkaian Bukit Barisan. Di sana di pesisir barat daya Sumatera.

Masih di zaman lampau, pada periode Friendstersaurus ketika testimonial teman adalah hal yang menyenangkan, saya juga pernah mendapat teman dari Bengkulu. Dua orang sekaligus, berasal dari Curup, Kab. Rejang Lebong. Kulit putih/bersih, pipi merona, dan mata sipit, sama sekali jauh dari gambaran saya akan orang Sumatera umumnya. Sejak masa itu saya tahu ada satu yang spesial nun di pelosok Bengkulu sana. Setidaknya ada faktor human interest yang bisa jadi daya tarik.

Keberuntungan telah mengirim saya menjelajah wisata Bengkulu (walau hanya dalam porsi kecil), menjejak kaki di bumi Rafflesia, menjumpai saya dengan bunga bangkai yang sebenarnya, menggoyang lidah dengan pendap dan udang masak tempoyak, menyesap harum kopi arabica dan segar sari jeruk kalamansi, menggemuruhkan dada dengan hentak rampak dol, menggugah sisi romantisme akan kisah percintaan Soekarno & Fatmawati. Oh, dan juga telah mengantarkan saya ke tanah Curup, sebuah kota kecil sejuk penuh bunga dan ‘kembang’. Bengkulu dalam satu kali kunjungan sudah mampu membuat saya melihat potensi besar atraksi wisata di provinsi terkecil Sumatera ini.

wisata bengkulu fort marlborough
Tari Persembahan digelar di muka Fort Marlborough. Welcome to Bengkulu!

Puspa Langka Bengkulu & Nasional

Rafflesia arnoldii jauh lebih dikenal semenjak saya kecil (mungkin karena penamaannya yang indah dan mudah dilafalkan). Bandingkan dengan Amorphophallus titanum (dimana beberapa orang mungkin akan merespon: ‘Apa itu? Baru dengar!’). Walaupun secara fisik mungkin bunga ini sudah familiar, khususnya bagi generasi 80an yang sempat melihat mata uang pecahan 500 Rupiah bergambar bunga bangkai. Ya betul, Amorphophallus titanum (alias Titan arum) adalah bunga bangkai yang sebenarnya (dengan aroma bangkai seutuhnya setia setiap saat)!

Sementara Rafflesia arnoldii sendiri memegang rekor sebagai bunga terbesar dunia, sekaligus dinobatkan sebagai bunga Nasional bersanding dengan melati putih dan anggrek bulan. Rafflesia arnoldii dan Amorphophallus titanum bisa dibilang sebagai tumbuhan endemik di wilayah Bengkulu yang sekaligus menjadi kebanggaan Nasional. Hanya wisata Bengkulu yang bisa membuatmu bersua bunga-bunga langka ini di habitat alaminya di dalam hutan.

Lebih lengkap tentang kedua tumbuhan ini silakan baca: Rafflesia arnoldii VS Amorphophallus titanum | Manakah Bunga Bangkai Sebenarnya?

rafflesia arnoldii vs bunga bangkai

Alam Raya Bengkulu

Bengkulu hampir mirip dengan Kerala. Bengkulu terletak di barat daya Sumatera, Kerala terletak di barat daya India. Bengkulu dibatasi samudera di pesisir barat dan terkurung pegunungan Bukit Barisan di sebelah timur, Kerala pun dibatasi samudera di pesisir barat dan terkurung pegunungan Western Ghats di sebelah timur. Faktor ini pula yang mungkin menyebabkan baik Bengkulu atau Kerala punya kondisi alam raya yang unik (atau mengisolasi gen leluhur oriental seperti pada sebagian besar penduduk Curup yang hidup permai di kota sejuk penuh bunga). Contoh lain, keempat jenis Rafflesia spp memilih bermukim di wilayah Bengkulu sahaja. Konon Rafflesia arnoldii hanya bisa tumbuh di hutan Bengkulu meski sudah pernah coba dikembangbiakkan di luar wilayahnya.

Pantai Panjang di dekat pusat kota Bengkulu mempunyai panjang pesisir hingga 7 km lebih. Bahkan agenda wisata tahunan Festival Bumi Rafflesia pun dipusatkan di Pantai Panjang ini. Ombak samudera tampak gigih menggempur pantai, meski beberapa di antaranya sudah bersahabat dengan para surfer (peselancar). Uniknya, di sekitar Pantai Panjang lebih banyak tumbuh pohon cemara dibanding pohon kelapa.

wisata bengkulu curup
Bunga-bunga tumbuh subur di kawasan sejuk Curup [photo by @ichan.dgmc]
wisata bengkulu pantai panjang
Landmark Pantai Panjang

Bencoolen Heritage

Peninggalan utama kolonial Inggris yang sempat menguasai Bengkulu (d/h British Bencoolen) selama 140 tahun salah satunya adalah Fort Marlborough. Saya pribadi menyukai kunjungan ke Fort Marlborough (salah satu benteng pertahanan terbesar di Asia) karena kaya akan nuansa historis dan juga bisa jadi setting fotografi menarik. Bayangkan bidang-bidang persegi dengan lansekap berundak-undak dan kombinasi warna rumput hijau, bata merah, dan kapur putih. Generasi masa kini menyebutnya Instagrammable.

Jangan lupakan rumah peninggalan Stamford Raffles nan megah (kini menjadi rumah dinas gubernur Bengkulu). Boleh megah rumah, boleh harum nama, namun Raffles pastilah bermuram durja mendapati keempat buah hatinya tewas oleh kolera dan dikebumikan di tanah Bengkulu (ini baru saya ketahui setelah mengikuti ‘wisata dadakan’ ke kawasan Makam Inggris bersama kak Olive, sang penjelajah kuburan).

Sebelum memproklamasikan kemerdekaan RI, Soekarno ternyata pernah diasingkan penjajah Belanda ke Bengkulu (1939-1942). Tak diduga tak dinyana, cintanya berlabuh pada seorang gadis jelita bernama Fatmawati (yang akhirnya kelak menjadi ibu negara dan turut berjasa menjahit bendera pusaka merah putih). Rumah kediaman Bung Karno dan juga ‘replika’ rumah kediaman Fatmawati yang letaknya tak terlalu jauh itu dapat menjadi obyek wisata sejarah romantis di Bengkulu.

wisata bengkulu benteng marlborough
Fort Marlborough salah satu ikon wisata Bengkulu [photo by @ayo_jalan2]
Rumah Bung Karno dalam pengasingan Belanda
Rumah Bung Karno dalam pengasingan Belanda

Seni Budaya Bengkulu

Adalah keliru jika kau kira di Bengkulu hanya ada pengaruh budaya Melayu. Tabot dan dol adalah contoh keberagaman budaya Bengkulu yang pengaruhnya berasal dari India (konon dibawa para pendatang dari Madras & Bengal semasa zaman kolonial Inggris). Tabot sendiri berwujud kotak kayu tinggi semacam tiang gapura (kau bisa lihat perwujudannya di pintu gerbang bangunan-bangunan besar di Bengkulu), sementara dol adalah alat musik tabuh yang dipakai mengiringi. Ritual Tabot diselenggarakan tiap tanggal 1-10 Muharram. Atraksi rampak dol yang dipersembahkan kepada kami ketika berada di Fort Marlborough malah mencuri perhatian saya karena efek dinamisnya. Pada waktu itu saya berpikir jika bunyi tetabuhan ini mirip dengan musik tradisional di Kerala, belakangan saya baru tahu jika dol memang terpengaruh budaya India.

Besurek adalah semacam kain batik Bengkulu yang pengaruhnya kemungkinan besar dibawa oleh Sentot Alibasyah (panglima perang Pangeran Diponegoro) dalam masa pengasingannya di Bengkulu. Ciri khas besurek adalah motifnya yang terinspirasi aksara Arab (meski tanpa makna khusus dan sama sekali bukan penggalan ayat Qur’an sehingga aman untuk dikenakan siapa saja dimana saja). Bengkulu juga punya aksara khas yang disebut Kaganga. Kau bisa melihat sebagian besar jejak budaya ini di Museum Negeri Bengkulu.

wisata bengkulu rampak dol
Atraksi rampak dol di Fort Marlborough
wisata bengkulu budaya besurek
Contoh motif besurek [photo by @astinsoekanto]

Kuliner Bengkulu

Durian Bengkulu ialah salah satu yang termahsyur. Tempoyak (fermentasi durian) adalah salah satu unsur hidangan wajib di Bengkulu. Saya sempat mencoba udang masak tempoyak di RM Marola di pesisir Pantai Panjang. Enaknya unik, gurih-asam-manis, hard to explain, kau harus coba sendiri! Bahkan ia sudah keburu ludes sebelum saya sempat mengambil gambarnya. Aneka hidangan dari durian (segar atau fermentasi) mungkin bisa jadi andalan Bengkulu dalam menarik minat pemburu wisata kuliner.

Ada pula pendap, semacam pepes yang terbungkus daun keladi, dan menjadi favorit Bung Karno semasa berada di Bengkulu. Minumannya ada kopi Bengkulu dan sari jeruk kalamansi. Jangan kaget jika pengaruh masakan Sunda juga masih terasa di sini terutama di dataran tinggi (karena banyak pekerja perkebunan teh yang asalnya dari bumi Parahyangan).

wisata bengkulu kopi arabica
Mari ngopi!

Ada banyak potensi wisata Bengkulu lainnya yang belum sempat kami eksplor. Tetapi semoga penggalan pengalaman saya di atas bisa memberi sedikit gambaran seperti apakah pesona wisata Bengkulu sebenarnya. Jadi membaca Bengkulu kini sama sekali bukan seperti membaca peta buta. Sepakat, ya! 🙂

 

Disgiovery yours!

 

Disclaimer:
* Perjalanan saya ke Bengkulu atas undangan Dispar Pemprov Bengkulu & Alesha Wisata dalam event Festival Bumi Rafflesia 2017
* cover photo taken by @ichan.dgmc at Taman Bunga Inaya, Curup

 

5 Pesona Wisata Bengkulu (Dulu Tak Tahu Kini Semua Harus Tahu)

11 thoughts on “5 Pesona Wisata Bengkulu (Dulu Tak Tahu Kini Semua Harus Tahu)

  • August 3 at 07:39
    Permalink

    Aku tahunya kalau Bengkulu itu pantai dan benteng atau peninggalan sejarah saja. Selebihnya nihil; Oya yang buat aku penasaran malah kulinernya. Apakah lebih mirip dengan Padang ya 😀

    Reply
    • August 3 at 12:03
      Permalink

      Nah, menurutku kuliner Bengkulu malah cukup berbeda dengan provinsi tetangganya. Mungkin karena lebih banyak pengaruh durian & tempoyak? Hehehe..

      Reply
    • August 3 at 12:05
      Permalink

      Ahahaha strategi jitu nih buat menghafal! 🙂

      Kalau Jambi itu BH ya? Singkatan dari apa, atau tak perlu dihafal lagi ya karena mudah diingat 😉

      Reply
      • August 5 at 16:59
        Permalink

        Kalau jambi BH=Banyak Hutan…yang sayangnya sering dibakarin 🙁

        Btw itu hipotesa saya sebagai gadis jambi merangkap gadis curup seperti yang sudah dideskripsikan di atas wkwkw

        Reply
        • August 18 at 20:29
          Permalink

          Hahaha banyak BH dibakar ya.. duh ngilu membayangkannya.. :/

          Kamu kan gadis Kepahiang bikin mabuk kepayang.. #eaa

          Reply
  • August 3 at 09:14
    Permalink

    Udang di tempoyak, hmm, belom pernah coba. Biasanya di Palembang sini, ikan patin yang dimasak tempoyak.

    Kebun bunga di Curup itu kece banget. Dari Curup, tinggal 1 jam perjalanan darat menuju kota Lubuk Linggau (Sumsel), nah dari sana kalau mau ke Palembang, tinggal naik kereta sahaja 🙂

    Reply
    • August 3 at 12:06
      Permalink

      Nah, sekarang malah jadi penasaran gimana rasanya patin tempoyak.. *anaknya mauan*

      Oya, jadi ada kereta dari Lubuklinggau? Melewati Pagar Alam kah?

      Reply
  • August 6 at 12:16
    Permalink

    selama ini taunya benteng sama pantai panjangnya 😀
    daaan jadi tau bedanya bunga bangkai sama raflesia arnoldi

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *