World Travelers

Disgiovery.com

KAWAN, masih ingatkah ketika saya pamit hendak melanglang buana sekejap ke Kerala?  “Kerala?” tanyamu. Saya lalu menjelaskan bahwa Kerala adalah sebuah buana seluas sepertiga Jawa di selatan Hindustan.  Adalah keberuntungan saya dapat terpilih sebagai salah satu peserta Kerala Blog Express 2014 yang diadakan oleh Kerala Tourism.

“Ada apa di Kerala?”

Jujur, pada awalnya pengetahuan saya pun nihil tentang salah satu negara bagian di India ini.  Tapi ternyata pustaka di ranah maya menyimpan banyak informasi tentang hal tsb.  Wawasan pun bertambah, pengalaman akhirnya didapat, dan jika sekarang ditanya seperti apa Kerala itu maka saya akan menjawab:

“Kerala adalah India yang bukan India.”

Bagi saya, salah satu hal yang paling berkesan dari perjalanan Kerala Blog Express (KBE Trip) tempo hari adalah kesempatan berinteraksi dengan sesama rekan pejalan dari berbagai penjuru dunia.  Bayangkan, road trip 16 hari bersama-sama 26 orang teman baru dari 13 negara, bukankah hal itu menyenangkan?

 

1. You don’t have to introduce your country, THEY DO KNOW INDONESIA!

Berbeda dengan orang asing kebanyakan, kaum pejalan ini tentunya sudah fasih dengan nama-nama negara eksotis di Asia Tenggara, khususnya Indonesia.  Beberapa orang bahkan sudah menjelajahi bumi pertiwi dari barat sampai ke timur.  Caroline, seorang perempuan Jerman bersuara lembut yang jadi teman dekat saya selama trip ini bahkan sempat backpacking satu bulan lamanya di Sulawesi, dan bilang masih ingin balik lagi.

Tapi yang paling saya ingat adalah mereka lebih menyukai Indonesia dibanding negeri jiran yang lebih teratur.  ‘Karena lebih asli, alami, orisinil’, ya semacam itulah alasannya.

Me pulling the fishing net with the fishermen.  They don't even care what country you're from :)
Me pulling the fishing net with the fishermen. They don’t even care what country you’re from 🙂

 

2. You say hi and and they reply ‘Apa kabar?’

Mereka bilang bahasa Indonesia itu ‘such a cute languange‘. Mudah dipelajari, mudah diingat, dan mudah diucapkan: apa kabar, terima kasih, sama-sama.  Edgar yang berlidah Tagalog & Cebuano bahkan menyukai kata ‘laba-laba’ dan ‘kecoak’ karena menurutnya ‘tingling at my tongue‘.

Pada awalnya saya selalu mengucapkan ‘good morning‘ kepada teman-teman yang duduknya berdekatan di dalam bus KBE, dan baik Emanuele atau Eviña akan balas menyapa ‘Selamat pagi! Apa kabar?’.  Saya jadi malu sendiri dan pada akhirnya mulai membiasakan diri menyapa ‘buon giorno‘ kepada Emanuele dan ‘buenos dias‘ kepada Eviña.

 

3. You are where you sit

Seperti sudah hukum alam, baik di ruang kelas sekolah atau di kampus, biasanya pelajar yang ramai & berisik memilih duduk di baris tengah hingga belakang.  Sedangkan mereka yang pendiam & pintar biasanya duduk di baris tengah hingga depan.

Demikian juga di dalam bus KBE yang membawa kami berkeliling Kerala.  Tim serius duduk di baris tengah hingga depan.  Tim hore ada di baris tengah hingga belakang.  Saya, Dina, Edin, dan Caroline bisa dibilang penguasa kursi paling belakang.  Bukan karena saya jahil atau berisik (itu mah si Edin), tapi alasan saya duduk di sana karena posisi tempat duduk yang lebih tinggi hingga lebih leluasa mengamati (dan terhindar dari mabuk perjalanan, hahaha!) #bukaaib #tenggakAntimo

Ya seperti inilah kelakuan normal anak belakang! ;) #keluh
Ya seperti inilah kelakuan normal anak belakang! #keluh

 

4. You are how you hug

Kawan, di antara kelompok kalian pasti ada saja satu sosok teman yang bertubuh mungil, lincah, dan lucu.  Demikian pula halnya kami di grup KBE Trip. Roxy nama panggilannya.  Food blogger asal Mumbai ini punya sifat periang dan tingkah laku yang kerap mengundang tawa. Jika sedang bicara kepalanya selalu bergoyang-goyang dengan bola mata bulat yang bergerak-gerak dan mimik muka ekspresif.

Roxy punya ritual memberi morning hug kepada kami. Di hari-hari pertama saya membalas peluk seadanya karena tak terbiasa, tapi kemudian dikomentari olehnya, “Your hug no gooood!”  Lantas ia mencontohkan pelukan yang menurutnya sesuai kaidah UU Perpelukan Dunia.  Intinya kau harus memeluk dengan mantap namun tetap memberi rasa nyaman.

Free hugs, anyone? 😉

you-are-how-you-hug
Roxy shows how to hug passionately!

 

5. You learn many types of traveler

Baru kali ini saya menghadapi beragam macam travel blogger dalam satu perjalanan, mulai dari luxury traveler, backpacker, food blogger, travel photographer, hingga green tourism activist.  Ada yang dari kalangan profesional, ibu rumah tangga, pelajar, hingga full time traveler.  Ada blog berbahasa Inggris, ada blog berbahasa dunia. Masing-masing punya karakter tersendiri.  Masing-masing punya pembaca tersendiri.  Cerdik nian langkah yang diambil Kerala Tourism dalam menyaring peserta KBE.

Luxury traveler biasanya tampil lebih gaya, sementara backpacker jauh lebih cuek.  Food blogger biasanya jauh lebih cerewet dan detail, sementara travel photographer lebih pendiam dan lebih banyak mengamati.  Saya perhatikan juga masih banyak yang setia menulis dengan notes dan pensil, bahkan seingat saya tak ada yang menggunakan iPad atau komputer tablet lain.  Sementara kamera DSLR Nikon tampak mendominasi perangkat andalan.

Based on the appearance, can you tell what kind of traveler they are?
Based on the appearance, can you tell what kind of traveler they are?

 

6. You learn many characters of people from different countries

Tentu ini bukan jadi patokan secara umum, tapi setidaknya inilah yang saya alami selama berjalan bersama mereka.  Favorit saya adalah teman-teman dari Brazil, mereka begitu hangat dan ceria.  Teman-teman Hispanik kalau bicara pasti ramai tanpa henti dan mereka juga gemar berpesta.  Pejalan dari Italia bersikap terbuka dan kocak.  Pejalan dari negeri dingin semacam Polandia dan Skandinavia termasuk pendiam dan tak banyak cakap, tapi sebenarnya mereka bisa menjadi teman ngobrol yang seru.

Pejalan Pinoy dan Pinay sayangnya terlalu asyik bersekutu dengan sesama, sehingga kesannya tak mau membaur. Teman saya bilang, secara budaya orang Filipina memang seperti itu kalau berada di luar negeri.  Secara pribadi, pada dasarnya mereka baik dan ramah.  Beda kasus sama pejalan asal Indonesia (ehem!) yang syukurnya bisa membaur dengan grup.  Padahal aslinya sok akrab, hahaha!

 

7. Asian travelers are more ‘ngguyub’

Mangan ora mangan sing penting ngumpul.  Mau beda negara yang penting berangkat bareng.  Pejalan Indonesia dan Filipina sampai janjian kopdar di Singapura, kumpul-kumpul dulu, jalan-jalan dan makan-makan sebelum berangkat bareng ke Kerala.  Sementara teman-teman dari Amerika biarpun satu pesawat tapi tak ada inisiatif buat ngariung dulu di bandara misalnya.  Mereka malah baru berkenalan pada saat acara.

Jika pejalan kulit putih lebih senang mendapat bungalow tersendiri, kami pejalan Asia malah sedikit kecewa karena terpisahkan. ‘Lho, kok kamarnya terpencar-pencar, sih? Mana berjauhan pula!’  Padahal kalau satu villa dihuni rame-rame pasti bakal lebih seru.  Apa asyiknya coba tinggal di bungalow besar dengan kolam renang pribadi jika kita cuma seorang diri! 😉 #humblebrag

private-pool
Tidur, tidur sendiri. Renang, renang sendiri, Motret, motret sendiri. Asyiknya kan rame-rame! :’/

 

8. You all adapt to local customs/culture

Bahwa sesungguhnya jam makan siang di Kerala adalah sekitar pukul 14.30 dan jam makan malam adalah enam jam kemudian.  Perut kami sama-sama senasib sepenanggungan menanti jadwal makan yang di luar kebiasaan.  Akhirnya ramai-ramai menimbun camilan di bus.  Saya paling suka keripik Lays rasa chili lemon!

Bahwa sesungguhnya adab menyantap hidangan tradisional Kerala (disebut ‘sadya’) adalah menggunakan kelima jari tangan sebelah kanan, tanpa sendok garpu dan semacamnya.  Sadya terdiri atas beberapa jenis masakan dan disajikan di atas selembar daun pisang.  Bagi saya dan orang Asia lainnya hal ini bukan barang baru.  Tapi sungguh menarik menyaksikan teman-teman dari lain benua yang belajar cara menggunakan lima jari tangan untuk mengambil makanan basah lalu menyuapkannya ke mulut.

Justin (backpacker dengan sosok ala Hollywood) sendiri kasih testimoni, “The best moment was having food with my hand. It was an awesome cultural experience!

eat-sadya
This is what ‘sadya’ looks like. It looks a bit messy, but it tastes delicious. And you have to eat it with your hand, no cutlery. Photo by Caroline.

 

9. You’ve got comedy, action, and of course DRAMA

Edin adalah badut kelas, tindak tanduknya banyak mengundang tawa.  Ia bersumpah takkan membiarkan lelaki manapun menjamah tubuhnya, apalagi dalam kondisi polos.  Sayangnya, perawatan ayurveda yang kami jalani tidak memperkenankan terapis dan pelanggan berlawanan jenis.  Edin pun tak punya pilihan.  Tanpa diduga… “I really enjoyed it, even when the masseur did my crotch.

Kami semua terperangah.  “Edin, are you sure? None of us had it like that. He might have misused you.

Edin langsung bereaksi, “WTF???

Hahaha!

Ayurveda therapy using hot oil. Just get naked and leave all the rest to the therapist.
Ayurveda therapy using hot oil. It’s what Edin was afraid of (getting naked and touched by a male stranger) but eventually he enjoyed it 😉

Tapi berkat Edin pula saya dan Dina mengalami petualangan seru, yaitu KABUR dari agenda trip di hari pertama!  Hehehe, sebenarnya itu murni ketidaksengajaan sih, tapi sungguh merekatkan pertemanan kami di hari-hari berikutnya.

Jangan lupakan drama.  Dalam setiap lingkaran pertemanan atau kelompok sosial pasti ada saja satu dua orang yang hobi bikin drama.  Demikian pula halnya dengan trip level internesyenel ini.  Tersebutlah satu orang yang sungguh fakir perhatian.  Kalau tak disapa ia ngambek, kalau tak dipeluk ia ngambek, kalau tak diajak ngobrol ia ngambek, kalau tak diajak seru-seruan ia ngambek.  Kurang lebih seperti itulah.  Tapi kami anggap hal itu sebagai bumbu perjalanan, malah jadi bahan obrolan seru kalau lagi pada kumpul.

 

10. You’ve also got ‘lope-lope di udara’

Jalan bareng selama beberapa hari tentunya membangkitkan kadar kimiawi dan biologis.

Edin dan Caroline terjangkit sindrom ini, bahkan sejak hari kedua mereka bertemu.  Segera saja seisi bus menjuluki mereka ‘lovebirds‘ karena keduanya tak terpisahkan.

Ada pula ‘lope-lope‘ jejadian.  Kisahnya terjadi ketika saya melihat Eviña tampak tidak nyaman di atas kapal yang membawa kami menyusuri danau Periyar.  Usut punya usut, ternyata ia sedang didekati oleh manajer kapal, dengan cara agresif yang gadis Spanyol itu tak suka. Akhirnya, saya berinisiatif menjadi ‘pacar dadakan’ Eviña.  Kami duduk berdekatan di kapal, sengaja memperlihatkan kehangatan hubungan.

Begitu sampai tujuan, tepat sebelum turun kapal, Eviña menghadap saya sambil berucap lantang, “I love you!” Rambutnya yang berkibar disinari cahaya senja.
Saya balas, “I love you too!” Lewat ekor mata saya lihat manajer kapal menyaksikan semua ini.
Saya dan Eviña berpelukan erat.  Saya yakin ada hati yang patah.

Mission accomplished.

love-boat
Eviña and I on the ‘love boat’. She obviously looked uncomfortable by the situation, until I came to rescue her 😉 Photo by Edin.

 

11. You’ve got BFFF!

Bisa dibilang para penguasa kursi paling belakang di bus KBE telah menjelma sekawan yang kompak. Hobi kami berbual-bual hal nyeleneh, seperti mengkhayal tentang unicorn dan pelangi, hingga membahas aneka kotoran.  Edin ingin bikin shit.com yang isinya beragam kotoran di dunia. Caroline tertarik bahas toilet-toilet terjorok di dunia.  Saya dan Dina cukup menjadi pendengar sekaligus penasehat yang baik.  Sesekali Michelle (Denmark) dan Kenney (India) pun ikut nimbrung duduk di belakang.

Edin bilang kami sudah lebih dari sekadar BFF (Best Friends Forever), tapi BFFF.  “Best Fucking Friends For-fucking-ever!

Sayangnya Dina kurang dengar. “What? Best Friends For Fucking?

-___-‘ #abaikanDina

Caroline & Edin, photo by Dina. I got separated from them on the last day (I was in a different hotel), how sad! :(
Caroline & Edin, taken by Dina. I got separated from them on the last day (I was placed in a different hotel), how sad! 🙁

 

12. Sleep-bomb!

Perjalanan panjang berjam-jam tiap hari terkadang membuat jenuh.  Untuk mencairkan suasana, kami pun membuat foto sleep-bomb di dekat siapa saja yang tengah tertidur.  Bisa diduga ini ulah anak-anak baris belakang, namun tak lama anak-anak baris depan pun ikut-ikutan.

Sleep-bomb seru pisan!

Dina is a hardcore sleep-bomb activist, but in the end she got caught! :D
Dina is a hardcore sleep-bomb activist, but in the end she finally got caught herself! 😀

 

13. You suddenly speak English as second language

Supaya lancar bicara bahasa asing ya harus mempraktekkannya setiap saat kapanpun dimanapun.  Selama KBE Trip ini saya dan Dina terbiasa berbicara dalam bahasa Inggris, sehingga kadang masih suka cas cis cus walau cuma ngobrol berdua.

I think she just likes getting attention from everybody!” ungkap Dina tatkala melihat drama kecil di dalam bus.  Kami duduk berdua di kursi paling belakang sebelah kiri.

Psst, turn your voice down!” sergah saya takut didengar.

Ok, we’ll talk about this later.” Dina menunda obrolannya.  Tapi tak lama ia cekikikan sendiri. “Kenapa gak ngomong pake bahasa Indonesia sih!  Gak ada yang ngerti juga!” ujarnya sambil menunjuk seisi bus.

Saya ikut tersadar dan akhirnya terpingkal. Hahaha!

 

14. You get more about solidarity & nationalism

Seorang penjelajah dunia asal Indonesia yang saya kenal berpendapat jika kau terlalu lantang menyuarakan tentang ‘Saya cinta Indonesia! Negeri saya indah!’ tanpa mengindahkan tenggang rasa dengan negara lain, hal itu malah menyiratkan bahwa kau tidak yakin dengan potensi diri/bangsa.  Akibatnya kau memaksakan diri agar dikenali dan diberi perhatian. Tandanya kau fakir afeksi.  Makanya doyan drama.

Setelah saya pikir lagi, untuk menunjukkan nasionalisme sebenarnya tak perlu memaksakan atribut apapun, tunjukkan saja dengan good attitude.  Sudahlah cukup puja-puji tentang bangsamu dari teman-teman pejalan dunia.  Satu-dua orang dari grup KBE bahkan punya agenda tahunan berkunjung ke Indonesia. Seorang pengusaha eco-resort di Wayanad, Kerala bagian utara, bahkan membisikkan pada saya, “Semua furnitur ini saya impor dari Jepara, lho!”

Saya bangga.  Saya juga kerap mengenakan kaus barong atau celana batik di sana, tapi murni alasan kepraktisan (karena keduanya ringan dan menghemat tempat).  Tanpa effort berlebih, banyak yang suka dengan apa yang saya kenakan, dan menanyakan lebih jauh tentang hal itu.  Di sinilah peranmu sebagai duta Indonesia sebenarnya.  Tak ada yang memaksa dan dipaksa.

In the end, solidarity teaches you about global friendship and strengthen your feeling towards nationalism.
In the end, solidarity teaches you about global friendship and strengthens your feeling towards nationalism.

 

Bagaimana, Kawan?  Sudah siap jalan-jalan bareng traveler dunia? 🙂

 

Disgiovery yours!

 

*original photo cover by Stefania

———————————————————————————————————————————————

#14on14 adalah proyek menulis artikel blog dalam satu tema yang diinisiasi oleh Travel Bloggers Indonesia dan bisa diikuti oleh siapa saja.  Silakan simak tulisan teman-teman lain yang sudah tayang:

Astin Soekanto  |  Makna Filosofis 14 Motif Tenun Dari Nusa Tenggara
Danang Saparudin | 14 Hal Manis Dan Murah Di Inggris
Danan Wahyu | 14 Alasan Mengunjungi Kerinci
Arie Okta | 14 Ragam Wisata Tanah Kelahiran
Ridwan SK | 14 Barang Yang Sebaiknya Kamu Bawa Ketika Traveling
Albert Ghana | 14 Objek Wisata Menarik Di Kalimantan Barat
Lenny | 14 Travel Selfie Around USA
Tekno Bolang | 14 Senja Yang Bikin Kamu Galau
Fahmi Anhar | 14 Tempat Wisata Menarik Di Dubai
Wisnu Yuwandono | 14 Foto Romantis Di Sekitar Kepulauan Komodo
Yofangga | 14 Film Inspirasi Perjalanan
Teguh Nugroho | 14 Hal Yang Harus Kamu Tahu Tentang Semarang
Dea Sihotang | 14 Things To Do In Paris
Indri Juwono | 14 Tindak Tanduk Asyik Di Wae Rebo!
Parahita Satiti | 14 Tempat Cantik Untuk Natarajasana
Titiw Akmar | 14 Lagu Momen Untuk Traveling
Bobby Ertanto | 14 SEO Basic Travel Blogging ala Virus Traveling
Adlien | 14 Alasan Kenapa Harus Traveling Saat Muda
Rembulan Indira | 14 Places I Want To Share With My Loved One
Wira Nurmansyah | 14 Tips Simpel Agar Komposisi Foto Makin Kece
Olive Bendon | 14 Langkah Menikmati Perjalanan Tak Biasa
Indra Setiawan | 14 Hal Yang Bisa Dilakukan Di Palangkaraya

14 Hal Seru Jalan-Jalan Bareng Traveler Dunia
Tagged on:     

39 thoughts on “14 Hal Seru Jalan-Jalan Bareng Traveler Dunia

  • February 16 at 00:14
    Permalink

    1. Yes! Good traveler know Indonesia 🙂
    2. Kumaha, damang?
    3. Duduk belakang itu pengamat, atau badannya gede.
    4. Hug perlu dibuktikan!
    5. Yay! Nikonian!
    6. Sok akrab tapi syariah 😉
    7. Udah mraktekin humblebrag nih yeee…
    8. Jadi bangga kalau makannya ‘muluk’
    9. Drama emang harus campur msg!
    10. Patah hati….. 😐
    11. BFFF needed, please…
    12. Oh, must be careful near Badai while you sleep.
    13. Coba satu ngomong jawa, satu sunda deh..
    14. Duh, saya juga punya agenda tahunan di Indonesia..

    Reply
  • Pingback: Makna Filosofis 14 Motif Tenun dari Nusa Tenggara | kotak pandoraku

  • Pingback: 14 Langkah Menikmati Perjalanan Tak Biasa | My Passion

  • February 16 at 10:54
    Permalink

    Wah seru sekali ya :D. Indonesia emang keren jadi kalau keluar bawa nama indonesia kenapa harus minder 🙂

    Reply
  • February 16 at 13:03
    Permalink

    Aku siaaappp!!! Tapi gimana caranya ya, mas? Da aku mah apa atuh, cuma butiran nasi briyani.

    Itu Edin kocak banget ya! Terus dramamu dengan si gadis Spanyol itu, pasti bakal diingat terus deh :))

    Reply
    • February 16 at 17:57
      Permalink

      Yang penting niat aja dulu 🙂 Btw aku doyan nasi biryani sampai ke butir terakhir! *malah fokus ke makanan*

      Edin mah bodor pisan jalmina! 😀

      Reply
        • February 16 at 21:22
          Permalink

          Hahaha musti coba ayurveda lho! Ada banyak metodenya, tapi kalo cocok emang beneran bikin merem melek sampe ketiduran 😀

          Reply
  • Pingback: 14 Things to do in Paris | "Travel brings yourself back as yourself" - Dea Sihotang

  • February 16 at 19:08
    Permalink

    hahahahaa kocak pas mo ‘gosipin’ orang lain tapi keceplosan pake bahasa inggris, krn srg banget kejadian sama gue dan temen di jalanan kampus pas ngomongin apapun sbg bahan obrolan saat jalan dari kampus 1 ke kampus 2.

    Reply
    • February 16 at 21:18
      Permalink

      Khaaan bener khaaan… 😉
      Tapi di sisi lain jadi terharu ya, ternyata bisa juga kita cas cis cus, hahaha 😀

      Reply
  • Pingback: 14 Barang Yang Sebaiknya Kamu Bawa Ketika Traveling | Jarang Panas

  • February 17 at 08:14
    Permalink

    Serunyaaa ..

    Anyway, ‘masalah’ bahasa akan selalu muncul ya, awalnya bikin panik, lama-lama ngakak sendiri, konyol soalnya.. :p

    Reply
  • February 17 at 17:53
    Permalink

    Aaaaaaa.. Seru banget kak. Ih aku suka banget deh tulisanmu yang ini. Mana fontnya gede2. Aku mau ganti font gede2 lupa mulu. :)) Btw ini kerala yang awal2 ya kak? Bukan yang kemaren anak2 ikutan voting2 itu? Ahhh jadi pengen ikut juga deh yang selanjutnya.. Thx for sharing this kak Badai idolakuuu :))

    Reply
  • Pingback: 14 Lagu Momen Untuk Traveling | titiw.com

  • February 20 at 12:35
    Permalink

    Waah mantep mas, ini pengalaman yang sangat menarik untuk dicoba 😀

    sepertinya asik kalau bisa ikutan ini 😀
    termotivasi nih…

    Reply
  • February 21 at 09:20
    Permalink

    Kakk, coba mau lebih dielaborate lagi UU perpelukan dunianya kak hahahaha

    lalu kelanjutan hubungan kakak sama Evina gimana? *kemudian digetok penghapus papan tulis*

    Reply
  • February 21 at 16:47
    Permalink

    Sumpah baca postingannya aja udh kebayang serunyaaaa.. Itu kak Dina duaransel yaa? Hahahahaha baru sadarnya di foto2 terakhir 😀

    Reply
  • February 21 at 18:35
    Permalink

    Kaaaaak, kenapa gak lanjutkan aja hubungan pacar dadakan menjadi pacar beneran :p
    anyway, kirain orang indonesia aja yang suka bikin drama. eh bule bule jugaaaa 🙂
    kalo bahasa Indonesianya “Caper” muehehe

    Reply
    • February 24 at 01:03
      Permalink

      Gak mungkin lah soalnya udah ada yg punya pasangan 😉
      Caper emang ada dimana-mana, hahaha!

      Reply
  • March 2 at 20:09
    Permalink

    Duuh keren banget ceritanya… Cerita pacar dadakan bisa lah jadi satu novel kayanya wkwkwk…. Tapi sukak banget poin no.14… Gak boleh sombong, gak boleh maksa, gak boleh ego. Karena namanya mutiara, gak perlu sombong pasti di buru.

    Semoga bisa nyusul segera.

    Reply
    • March 2 at 20:58
      Permalink

      Ayo kak Ghana, saya siap diwawancara untuk jadi bahan novelmu, hehehe..
      Aamin! Moga bisa menyusul ke jenjang berikutnya 😉 *berasa kawinan*

      Reply
  • October 28 at 14:45
    Permalink

    Asik banget ya traveling rame-rame gini 😀 banyak cerita ya pasti e :3 Pengen banget ikutan 😀

    Reply
  • November 26 at 21:35
    Permalink

    Heboh ya mbak Dina selama diperjalanan, pasti seru. Asyik Kalo dalam perjalanan ada teman yang bisa seru seruan kayak mbak Dina gitu. Jalan pasti nggak bosenin, ya kan? Semoga aku bisa kek gitu (jalan jalan ke Kerala) dan keliling India Selatan pastinya..

    Reply
    • November 26 at 22:27
      Permalink

      Beruntung dapat teman seperjalanan yang klik sama kita 🙂 Aamin! Moga kesampaian eksplor India Selatan nanti..

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *